Rabu, 03 April 2013

*DEMI MEREKA*




“................. fikirkupun melayang....
Hooooo dahulu penuh kasih ..teringat semua cerita orang .,,,tentang riwayat ku....
Kata mereka diriku selalu di manjaa...kata mereke diri ku selalu di timang...
Oooh bunda ada dan tiada diri mu kan selalu ada di dalam hati ku.........”

Sebuah lagu pun mengantarkan aku dalam mimpi yang indah.Dan akhirnyapun aku terlelap.
Aku teringan kisah beberapa tahun yang lalu. Dimana seorang ibu yang selalu ada untukku, yang selalu memberikan yang terbaik untukku. Belaian tangan dan pelukan nya yang begitu hangat  dapat meredam rasa gundah, sedih dan kadang dapat sebagai penawar rasa sakit.
Ibu..... malam ini aku benar-benar sangat merindukan mu.
Ibu, begitu besar pengorbanan mu untuk kami anak-anakmu. Maafkan aku ibu jika untuk saat ini aku belum bisa membuat mu bangga. Aku berjanji pada mu suatu saat nanti aku akan membahagiakan mu. Aku akan memberikan yang terbaik untuk keluarga kita.
Ibu pergi ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Dimana aku sendiri belum mengerti arti sebuah kematian. Semenjak kepergian ibunda tercinta akulah yang menjadi pengganti ibu bagi kedua adik-adikku. Harus mempersiapkan semua kebutuhan adikku yang masih kecil-kecil. sementara itu aku juga haru sekolah. Dan aku juga harus bekerja untuk keperluan sehari-hari kami. Karena gaji ayah tidak mencukupi untuk semua kebutuhan kami. Ayahku hanyalah seorang tukang bangunan yang gajinyapun tidak seberapa. Tapi bagiku ayahku adalah orang sangat kuat.dan ayah adalah orang yang sangat hebat. Dan ayah adalah segala-galanya bagiku. Ayah begitu sabar menjaga kami dan merawat ibu yang bertahun-tahun sakit. Aku tidak pernah menyesal lahir dari keluarga sederhana ini. Aku bahagia bersama mereka.
Disekolah , aku berjualan kue. Dan aku juga pernah bekerja ditempat pamanku. Aku menolong paman untuk membuat tepung.aku senang bisa membantu paman.aku tidak pernah malu dengan hal itu. Justru aku bangga. Karena aku bisa membantu ayah dan memenuhi kebutuhan adik-adikku. Aku tidak ingin merepotkan ayah lagi. Karna ayah pasti sangat lelah.
Kadang-kadang aku juga merasa iri dan sedih, karna setiap tahunnya teman-teman ku memakai baju baru. Dan aku hanya baju bekas sisa dari keluarga jauhku. Dan aku juga kasihan melihat adik-adikku yang  masih kecil. Aku berusaha sekuat tenagaku menjadi kakak sekaligus ibu bagi adikku. Aku tidak ingin orang-orang mengatakan aku dan adik tidak terurus lagi karna kepergian ibu.
Semenjak ibu pergi aku sudah bisa memasak.sebelumnya ibu tidak pernah memperbolehkan aku untuk memasak karna takut aku terluka atau terkena api  kompor. Sekarang aku kerjakan semuanya dengan sendiri.
pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan mempersiapkan kebutuhan sekolah adik. Aku harus memasak, mencuci, menyiapkan makanan dan harus merapikan rumah. Yang membuatku  bertahan sampai saat ini adalah ayah dan kedua adikku. Mereka adalah penyemangat dalam hidupku. Dan sepulang sekolah aku harus mebersihkan rumah yang begitu berantakan. Harus mencuci dan memasak lagi. Dan aku juga harus pergi kerja dirumah tetanggaku. Uangnya tidak begitu besar tapi setidaknya cukup untuk kami.
Disuatu hari adikku yang paling besar demam tinggi, aku bingung harus melakukan apa, aku begitu takut dan aku juga begitu kasian melihat adik. Ayah belum pulang kerja. Aku teringat ketika aku sakit ibu memelukku dan rasa sakitnya berkurang. Dan aku juga melakukan hal yang sama pada adik. Berharap rasa sakit adik juga berkurang.
Dan  sekarang aku sudah remaja aku tidak pernah merasa malu dengan kehidupanku. liku-liku kehidupan membuatku tumbuh cepat menjadi seorang remaja,aku juga seperti teman yang lain, aku bisa bermain, bercanda dan aku juga menikmati masa remajaku.  Aku juga mempunyai sahabat-sahabat yang sangat baik padaku. Disanalah aku menemukan arti sebuah perahabatan. Sahabat-sahabatku itu umumnya kehidupannya sama  seperti aku. Kami selalu berbagi keluh dan kesah yang kami rasakan.
Upzz hampir lupa. Aku punya ibu baru lo. Dan aku juga punya adik-adik baru. Akhirnya keluarga ku utuh lagi. Aku berharap ibu menyayangi kami sepenuh hatinya.
Sekarang ayah tinggal bersama ibu dirumah mereka yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalku. Ayah juga mengajakku tinggal bersama. Tapi aku menolak karna aku tidak mau merepotkan ayah dan ibu. Aku dan adik tinggal disebuah rumah yang begitu sederhana. Rumah yang tidak mempunyai kamar. Tidur, memasak dan belajar hanya dalam satu ruangan. Disanalah kami bertiga tinggal. Dan aku harus bisa mandiri tanpa merepotkan ayah lagi.
Adikku semakin hari semakin bandel,mungkin karna masa pertumbuhannya. Kadang aku juga lelah harus mengurus semuanya. Tapi melihat wajah adik saat dia tidur rasa lelahpun hilang seketika. Wajahnya begitu polos dan damai. Dan melihat kecerian diwajahnya setiap hari membuat aku Semangat kembali, aku harus mempertahankan adikku dan memberikan yang terbaik untuknya. Ya... aku harus kuat untuk mereka.
Hari berganti hari ,bualn berganti bulan dan tahun berganti tahun. Sekarang aku sudah kelas III SMA. Aku akan ujian akhir sekolah. Aku harus bisa masuk perguruan tinggi yang negri. Buku-buku sudah banyak yang ku beli untuk sebagai panduanku. Akhirnyapun ujian selesai dan aku alhamdulillah lulus SMA. Dan sekarang adalah perguruan tinggi yang mana harus ku pilih. Aku ikut bimbel yang sedikit jauh dari rumahku. Aku harus bolak balik dari rumah ke tempat bimbel. Akut tidak mungkin meninggalkan adik-adikku.meskipun mereka sudah besar. Aku ikut  beberapa tes seleksi masuk keperguruan tinggi.tapi allah berkehendak lain. Aku belum juga lulus. Dan akhirnya ada seorang ibu-ibu dia adalah tetangga ku juga. Dia bersedia sebagai donatur untuk membantu uang kuliah ku. Dan memasukan akau ke sebuah sekolah swasta. Alhamdulillah ibu tersebut membantu dan mengurus semua keperluan kuliahku.
Dan banyak sekali hikmah yang dapat aku ambil dari semuanya, dimana ada kemaun pasti adajalan. Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku ingin sekali melanjutkan untuk kuliah dan allah memberikan jalan lewat tangan seorang ibu. Dan alhamdulilah aku bisa kuliah sekarang ini. Dan akan ku teruskan perjuanganku untuk mereka yang aku cintai karna-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar