KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah
SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami
berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang
berjudul “PROSES MANAGEMEN KESEHATAN ”.
Makalah ini berisikan tentang informasi
Pengertian Proses managemen kesehatan. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan
informasi kepada kita semua tentang Proses managemen kesehatan . Kami menyadari
bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Bukittinggi, 26 maret 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata pengantar ………………………………1
Daftar isi ………………………………2
BAB I Pembahasan
1.1 Konsep dasar dalam manajemen kesehatan ………………………………3
1.2 Penerapan manajemen di bidang kesehatan ................................................4
1.3 Ruang lingkup manajemen kesehatan ................................................5
1.4 Ekonomi layanan kesehatan ................................................5
1.5 Pengorganisasian dan pengembangan masyarakat ………………………8
BAB II Penutup
2.1 Kesimpulan ...............................................13
2.2 Kritik dan saran ...............................................13
Daftar Pustaka ...............................................14
BAB I
PEMBAHASAN
1.1 Konsep dasar dalam
manajemen kesehatan
1. Pengertian manajemen
a. Manajemen
adalah pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan
orang lain (Robert D. Terry)
b. Manajemen adalah proses
dimana pelaksanaan dari suatu tujuan diselenggarakan dan diawasi (Encyclopaedia
of sosial sciences)
c. Manajemen membuat tujuan
tercapai melalui kegiatan-kegiatan orang lain dan fungsi-fungsinya dapat
dipecahkan sekurang-kurangnya 2 tanggung jawab utama (perencanaan dan
pengawasan)
d. Manajemen adalah suatu
proses yang dilakukan oleh satu orang /lebih untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan
orang lain guna mencapai hasil (tujuan) yang tidak dapat dicapai oleh hanya
satu orang saja. (Evancevich)
Dari batasan-batasan tersebut di
atas dapat diambil suatu kesimpulan umum bahwa “ Manajemen adalah suatu
kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai suatu tujuan atau
menyelesaikan pekerjaan.” Apabila batasan ini diterapkan dalam bidang kesehatan
masyarakat dapat dikatakan sebagai berikut :
“ Manajemen
kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas
kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat
melalui program kesehatan.” Dengan kata lain manajemen kesehatan
masyarakat adalah penerapan manajemen umum dalam sistem pelayanan kesehatan
masyarakat sehingga yang menjadi objek dan sasaran manajemen adalah sistem
pelayanan kesehatan masyarakat. (Notoatmodjo,
2003)
2. Fungsi manajemen
Perbandingan beberapa fungsi manajemen
menurut 4 pakar manajemen ilmiah
|
Tokoh
|
Fungsi manajemen
|
|
George Terry
|
Planning, Organizing, Actuating, Controlling
|
|
L. Gullick
|
Planning,
Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, Budgetting
|
|
H.
Fayol
|
Planning,
Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling
|
|
Koonzt
O’ Donnel
|
Planning,
Organizing, Staffing, Directing, Controlling
|
Planning (perencanaan) adalah sebuah proses
yangdimulai dengan merumuskan tujuan organisasi sampai dengan menetapkan
alternative kegiatan untuk pencapaiannya.
Organizing (pengorganisasian) adalah rangkaian kegiatan menajemen
untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki
oleh organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan
organisasi.
Actuating (directing, commanding, motivating,
staffing, coordinating) atau
fungsi penggerakan pelaksanaan adalah proses bimbingan kepada staff agar mereka
mampu bekerja secara optimal menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai dengan
ketrampilan yang telah dimiliki, dan dukungan sumber daya yang tersedia.
Controlling (monitoring) atau pengawasan dan pengendalian (wasdal) adalah
proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan
rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi
penyimpangan.
1.2 Penerapan
manajemen di bidang kesehatan
Sehat adalah
suatu keadaan yang optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan tidak hanya
terbatas pada keadaan bebas dari penyakit atau kelemahan saja. Tujuan sehat
yang ingin dicapai oleh sistem kesehatan adalah peningkatan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. Sesuai dengan tujuan sistem kesehatan
tersebut, administrasi (manajemen) kesehatan tidak dapat disamakan dengan administrasi
niaga (business adminstration) yang lebih banyak berorientasi pada upaya untuk
mencari keuntungan finansial (profit oriented). Administrasi kesehatan lebih
tepat digolongkan ke dalam administrasi umum/publik (public administration)
oleh karena organisasi kesehatan lebih mementingkan pencapaian kesejahteraan
masyarakat umum.
Manajemen
kesehatan harus dikembangkan di tiap-tiap organisasi kesehatan di Indonesia
seperti Kantor Depkes, Dinas Kesehatan di daerah, Rumah Sakit dan Puskesmas dan
jajarannya. Untuk memahami penerapan manajemen kesehatan di RS, Dinas Kesehatan
dan Puskesmas perlu dilakukan kajian proses penyusunan rencana tahunan
Depkes dan Dinas Kesehatan di daerah. Khusus untuk tingkat Puskesmas, penerapan
manajemen dapat dipelajari melalui perencanaan yang disusun setiap lima tahun
(micro planning), pembagian dan uraian tugas staf Puskesmas sesuai dengan masing-masing
tugas pokoknya.
1.3 Ruang
lingkup manajemen kesehatan
1. manajemen
personalia (mengurusi SDM)
2. manajemen
keuangan
3. manajemen
logistik (mengurusi logistik-obat dan peralatan)
4. manajemen
pelayanan kesehatan dan sistem informasi manajemen (mengurusi pelayanan
kesehatan )
1.4 Ekonomi
layanan kesehatan
Masyarakat
Indonesia sejak awal tahun 1998 kembali dilanda krisis ekonomi seperti yang
terjadi pada tahun 1965. Bom Bali tanggal 12 Oktober 2002 juga memperburuk krisis
ekonomi yang berkepanjangan juga berdampak pada bidang kesehatan.
Kemampuan pusat-pusat pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta yang
menyediakan jasa pelayanan kesehatan bermutu dan harga obat yang terjangkau
oleh masyarakat umum semakin menurun. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat akan
pelayanan kesehatan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kesadaran
mereka akan arti hidup sehat. Namun, daya beli masyarakat untuk memanfaatkan
jasa pelayanan kesehatan semakin menurun akibat krisis ekonomi yang
berkepanjangan, terutama harga obat-obatan yang hampir semua komponennya masih diimpor.
Depkes sudah
mengantisipasi dampak krisis ekonomi di bidang kesehatan dengan menyesuaikan
terus kebijakan pelayanannya terutama di tingkat operasional. Peningkatan mutu
pelayanan kesehatan primer, baik di Puskesmas maupun di RS Kabupaten harus
dijadikan indikator penerapan kebijakan baru di bidang pelayanan kesehatan.
Realokasi dana DAU dan DAK juga perlu terus dikembangkan oleh Pemda untuk
membantu penduduk miskin. Beberapa kebijakan operasional yang sudah mendapat
perhatian dalam menghadapi krisis kesehatan ini adalah :
- Meletakkan landasan kebijakan kesehatan yang lebih bersifat pencegahan (preventif)
- Kebijakan obat nasional harus diarahkan untuk pemasyarakatan obat-obatan esensial yang terjangkau oleh masyarakat. Meskipun dengan dalih untuk membuka peluang bagi penanaman modal asing (PMA), pembatasan jumlah industri farmasi harus dilaksanakan secara ketat.
- Etika kedokteran dan tanggung jawab profesi seharusnya mendapat porsi yang lebih besar dalam pendidikan dokter agar dokter yang ditamatkan oleh Fakultas Kedokteran di Indonesia juga dapat berfungsi sebagai cendikiawan di bidang kesehatan.
- Kesehatan merupakan hak masyarakat yang perlu terus diperjuangkan terutama penduduk miskin karena sudah merupakan komitmen global pemerintah. Oleh karena itu, LSM kesehatan perlu terus diberdayakan (bagian dari reformasi kesehatan) agar mereka mampu menjadi pendamping kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan perlindungan.
A. Pembiayaan kesehatan
a. Sumber utama pembiayaan kesehatan
1. Pemerintah
2. Swasta
3. Masyarakat dalam bentuk pembiayaan langsung (fee
for service) dan asuransi
4. Sumber-sumber lain dalam bentuk hibah atau pinjaman
dari luar negeri
b. Pembiayaan kesehatan di masa depan akan semakin mahal
karena :
1. Pertumbuhan
ekonomi nasional yang juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan (demand)
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu.
2. Perkembangan
teknologi kedokteran dan pertumbuhan industri kedokteran. Hampir semua
teknologi kedokteran masih diimpor sehingga harganya relatif mahal karena nilai
rupiah kita jatuh dibandingkan dolar Amerika.
3. Subsidi
Pemerintah semakin menurun akibat krisis ekonomi tahun 1998. Biaya pelayanan
kesehatan di Indonesia sebelum krisis adalah 18 US dólar/kapita/tahun, tapi
kondisi ini menurun lagi setelah krisis yaitu 12 US dólar/kapita/tahun pada
tahun 2000. Seiring dengan turunnya kemampuan pemerintah, daya beli masyarakat
juga menurun untuk mengakses pelayanan kesehatan.
B. Sumber kegiatan sektor kesehatan
1. Pemerintah, yaitu APBN
yang disalurkan ke daerah dalam bentuk Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi
Khusus. Dengan diberlakukannya otonomi daerah, porsi dana sektor kesehatan yang
bersumber dari APBN menurun. Pemerintah pusat juga masih tetap membantu
pelaksanaan program kesehatan di daerah melalui bantuan dana dekonsentrasi khususnya
untuk pemberantasan penyakit menular.
2. APBD yang bersumber
dari PAD (pendapatan asli daerah) baik yang bersumber dari pajak, atau
penghasilan Badan Usaha Milik Pemda. Mobilisasi dana kesehatan juga bisa
bersumber dari masyarakat dalam bentuk asuransi kesehatan, investasi
pembangunan sarana pelayanan kesehatan oleh pihak swasta dan biaya langsung
yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk perawatan kesehatan. Dana pembangunan
kesehatan yang diserap oleh berbagai sektor harus dibedakan dengan dana sektor
kesehatan yang diserap oleh Dinas kesehatan.
3. Bantuan luar
negeri, dapat dalam
bentuk hibah (grant) atau pinjaman (loan) untuk investasi atau pengembangan
pelayanan kesehatan.
C. Asuransi kesehatan
Pembiayaan
kesehatan yang bersumber dari asuransi kesehatan merupakan salah satu cara yang
terbaik untuk mengantisipasi mahalnya biaya pelayanan kesehatan. Alasannyaantara lain :
- Pemerintah dapat mendiversifikasi sumber-sumber pendapatan dari sektor kesehatan.
- Meningkatkan efisiensi dengan cara memberikan peran kepada masyarakat dalam pembiayaan pelayanan kesehatan.
- Memeratakan beban biaya kesehatan menurut waktu dan populasi yang lebih luas sehingga dapat mengurangi resiko secara individu.
Asuransi
kesehatan adalah suatu mekanisme pengalihan resiko (sakit) dari resiko
perorangan menjadi resiko kelompok. Dengan cara mengalihkan resiko individu
menjadi resiko kelompok, beban ekonomi yang harus dipikul oleh masing-masing
peserta asuransi akan lebih ringan tetapi mengandung kepastian karena memperoleh
jaminan.
D. Unsur-unsur asuransi kesehatan :
- Ada perjanjian
- Ada pemberian perlindungan
- Ada pembayaran premi oleh masyarakat
E. Jenis asuransi kesehatan yang berkembang di Indonesia
- Asuransi kesehatan sosial (Sosial Health Insurance)
Contoh : PT Askes untuk PNS dan penerima pensiun dan PT
Jamsostek untuk tenaga kerja swasta.
- Asuransi kesehatan komersial perorangan (Private Voluntary Health Insurance)
Contoh
: Lippo Life, BNI Life, Tugu Mandiri, Takaful, dll.
- Asuransi kesehatan komersial kelompok (Regulated Private Health Insurance)
Contoh : produk Asuransi Kesehatan Sukarela oleh PT
Askes.
1.5 Pengorganisasian
dan pengembangan
masyarakat
1. Pengorganisasian masyarakat
a. Pengertian
Pengorganisasian masyarakat adalah suatu proses dimana
masyarakat dapat mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhannya dan menentukan
prioritas dari kebutuhan-kebutuhan tersebut, dan mengembangkan keyakinan untuk
berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan skala prioritas tadi
berdasarkan atas sumber-sumber yang ada di masyarakat sendiri maupun yang
berasal dari luar, dengan usaha secara gotong-royong.
b. Tiga
aspek dalam pengorganisasian masyarakat
1) Proses
Pengorganisasian masyarakat merupakan
proses yang dapat terjadi secara sadar tetapi mungkin pula merupakan proses
yang tidak disadari oleh masyarakat.
2) Masyarakat
Bisa diartikan sebagai suatu kelompok besar yang mempunyai
batas-batas geografis, bisa pula diartikan sebagai suatu kelompok dari mereka
yang mempunyai kebutuhan bersama dan berada dalam kelompok yang besar tadi.
3) Berfungsinya masyarakat
(functional community)
a) Menarik
orang-orang yang mempunyai inisiatif dan dapat bekerja.
b) Membuat
rencana kerja yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat.
c) Melakukan
usaha-usaha/kampanye untuk menggolkan rencana tersebut
c. Perencanaan dalam
pengorganisasian masyarakat
Dilihat dari segi perencanaannya, maka
terdapat 2 (dua) bentuk, yaitu :
1) Bentuk
yang langsung (direct), langkah-langkahnya adalah :
a) Identifikasi
masalah/kebutuhan
b) Perumusan masalah
c) Menggunakan
nilai-nilai sosial yang sama dalam mengekspresikan hal-hal tersebut di atas.
2) Bentuk
yang tidak langsung (indirect)
Di sini harus ada orang-orang yang
benar-benar yakin akan adanya kebutuhan/masalah dalam m yang jika diambil
tindakan-tindakan untuk mengatasinya maka akan timbu manfaat bagi masyarakat.
Hal ini dapat
berupa badan perencanaan yang mempunyai dua fungsi, yaitu :
a) Untuk
menampung apa yang direncanakan secara tidak formal oleh para petugas.
b) Mempunyai
efek samping terhadap mereka yang belum termotivasi dalam kegiatan ini.
d. Pendekatan
dalam pengorganisasian masyarakat.
1) Spesific
content objective approach
Seseorang atau badan/lembaga yang telah
merasakan adanya kepentingan nagi masyarakat dapat mengajukan suatu program
untuk memenuhikebutuhan yang dirasakan.
2) General
content objective approach
Tujuan pendekatan ini adalah untuk
mengkoordinir berbagai usaha dalam wadah tertentu.
3) Proses
objective approach
Penggunaannya agar timbul prakarsa dari
masyarakat, timbul kerjasama dari anggota masyarakat untuk akhirnya masyarakat
sendiri mengembangkan kemampuannya sesuai dengan kapasitas mereka dalam
melakukan usaha mengatasi masalah.
Secara sederhana ini dapat digambarkan
sebagai berikut :
Murray G-Ross membagi peranan petugas dalam
beberapa jenis, antara lain sebagai pembimbing, enabler dan ahli.
Sebagai pembimbing (guide) maka petugas
berperan untuk membantu masyarakat mencari jalan untuk mencapai tujuan yang
sudah ditentukan oleh masyarakat sendiri dengan cara yang efektif. Tetapi pilihan
cara dan penentuan tujuan dilakukan sendiri oleh masyarakat dan bukan oleh
petugas.
Sebagai enabler, maka petugas berperan
untuk memunculkan dan mengarahkan keresahan yang ada dalam masyarakat untuk
diperbaiki.
Sebagai ahli (expert), menjadi tugasnya
untuk memberikan keterangan dalam bidang-bidang yang dikuasainya.
e. Persyaratan petugas
1. Mampu
mendekati masyarakat dan merebut kepercayaan mereka dan mengajaknya untuk
kerjasama serta membangun rasa saling percaya antara petugas dan masyarakat.
2. Mengetahui
dengan baik sumber-sumber daya maupun sumber-sumber alam yang ada di masyarakat
dan juga mengetahui dinas-dinas dan tenaga ahli yang dapat dimintakan bantuan.
3. Mampu
berkomunikasi dengan masyarakat, dengan menggunakan metode dan teknik khusus
sedemikian rupa sehingga informasi dapat dipindahkan, dimengerti dan diamalkan
oleh masyarakat.
4. Mempunyai
kemampuan profesional tertentu untuk berhubungan dengan masyarakat melalui
kelompok-kelompok tertentu.
5. Mempunyai
pengetahuan tentang masyarakat dan keadaan lingkungannya.
6. Mempunyai
pengetahuan dasar mengenai ketrampilan (skills) tertentu yang dapat segera
diajarkan kepada masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat secara
menyeluruh.
7. Mengetahui
keterbatasan pengetahuannya sendiri.
2. Pengembangan
masyarakat
a. Dasar
pemikiran
Di dalam negara
yang sedang berkembang terdapat siklus keadaan yang merupakan suatu lingkaran
yang tak berujung yang menghambat perkembangan masyarakat secara keseluruhan. Maksudnya,
keadaan sosial ekonomi rendah yang mengakibatkan ketidakmampuan dan
ketidaktahuan, ketidakmampuan dan ketidaktahuan ini selanjutnya mengakibatkan
produktivitas secara umum juga rendah, produktivitas yang rendah selanjutnya
membuat keadaan sosial ekonomi semakin rendah dan seterusnya.
Langkah-langkah untuk mengembangkan dan
meningkatkan dinamika masyarakat, hendaknya menempuh langkah-langkah sebagai
berikut :
1) Ciptakan
kondisi agar potensi setempat dapat dikembangkan dan dimanfaatkan
2) Pertinggi
mutu potensi yang ada
3) Usahakan
kelangsungan kegiatan yang sudah ada
4) Tingkatkan
kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan
b. Perbedaan
antara pembangunan ekonomi dan pengembangan masyarakat
Menurut
Bhattacarya, pengembangan masyarakat membantu manusia mengubah sikapnya
terhadap masyarakat, membantu menumbuhkan kemampuan untuk berorganisasi,
berkomunikasi dan menguasai lingkungan fisiknya. Pembangunan ekonomi terjadi
bila masyarakat melaksanakan program-program pembangunan fisik tanpa mengembangkan
kapasitas manusianya.
c. Unsur-unsur
program pengembangan masyarakat
1) Program
terencana yang terfokus kepada kebutuhan-kebutuhan menyeluruh (total needs)
dari masyarakat yang bersangkutan.
2) Mendorong
swadaya masyarakat (ini merupakan unsur paling utama)
3) Adanya
bantuan teknis dari pemerintah maupun badan-badan swasta atau
organisasi-organisasi sukarela, yang meliputi tenaga personil, peralatan, bahan
ataupun dana
4) Mempersatukan
berbagai spesialisasi seperti pertanian, peternakan, kesehatan masyarakat,
pendidikan, kesejahteraan keluarga, kewanitaan, kepemudaan, dll untuk membantu
masyarakat.
d. Bentuk-bentuk
program pengembangan masyarakat
Menurut Mezirow, ada 3 (tiga) jenis
program dalam usaha pengembangan masyarakat, yaitu :
1) Program
integratif
Memerlukan pemgembangan melalui
koordinasi dinas-dinas teknis
2) Program
adaptis
Fungsi pengembangan masyarakat cukup
ditugaskan pada salah satu kementrian.
3) Program
proyek
Dalam bentuk usaha-usaha terbatas pada
wilayah tertentu dan program disesuaikan khusus kepada daerah yang bersangkutan
e. Penjabaran
secara operasional
1) Biarkan
agar masyarakat sendiri yang menentukan masalah, baik yang dihadapi secara
perorangan atau kelompok.
2) Biarkan
agar masyarakat sendiri yang membuat analisis untuk selanjutnya menyusun
rencana usaha perbaikan yang akan dilakukan.
3) Biarkan
agar masyarakat sendiri yang mengorganisir diri untuk melaksanakan usaha
perbaikan tersebut.
4) Sedapat
mungkin digali dari sumber-sumber yang ada dalam masyarakat sendiri dan kalau
betul-betul diperlukan dimintakan bantuan dari luar.
f. Tujuan
yang ingin dicapai dalam pengembangan masyarakat
1) Menumbuhkan
rasa percaya kepada diri sendiri
2) Menimbulkan
rasa bangga dan semangat gairah kerja
3) Mengingatkan
dinamika masyarakat untuk membangun
4) Meningkatkan
kesejahteraan masyarakat
BAB II
PENUTUP
2.1 Kesimpulan
Manajemen
kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas
kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat
melalui program kesehatan.
2.2 Kritik dan saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Notoatmojo,
Soekidjo. 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta.
Muninjaya, Gde AA, 2004. Manajemen Kesehatan,ed.2.
Jakarta : EGC
Prasetyo, Eko,
2005. Orang Miskin
Dilarang Sakit. Yogyakarta : Resist Book.
Azwar Azrul,
1998. Pengantar administrasi Kesehatan. Jakarta :Binarupa Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar