DINA PURNANDA
ELLA RIZKI YANTI
FAUJA BAMULO PUTRA
FAUZI PERNANDA
FEAM META ROZA
FITRIA RUSMIATI
GIFI MADORA
HAYU SETIAWATI
HENDRA HOLIDUN
HERU ADITA PUTRA
HERLIZA AMELIA
JULIARNI
KHOIROTUNNISA
FRENGKI PAIJA
DEDI IRAWAN
DOSEN PEMBIMBING : Ns. Indah Permata Rizki, S.
KEP
PROGRAM STUDI ILMU
KEPERAWATAN
STIKES YARSI SUMBAR
BUKITTINGGI
2011/2012
KATA PENGANTAR
Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, penulis dapat menyusun
makalah yang berjudul ”ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN KELENJER ADRENAL :
SINDROM CUSHING” makalah ini dapat selesai pada waktunya.
Makalah ini disusun dengan segala
kemampuan yang kami miliki saat ini, menggunakan bahasa yang singkat dan
sederhana. Dengan harapan mudah dimengerti oleh pembaca. Pada kesempatan ini
kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Ns.indah
permata rizki, S.Kep (selaku tutor)
2. Teman-teman
yang ikut aktif membantu penulisan
Penulisan menyadari akan adanya
kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu penulis mohon saran dan kritikan yang
bersifat membangun sebagai pedoman bagi penulis dimasa yang akan datang. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan diri penulis sendiri.
Hormat
kami,
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR i
DAFTAR
ISI ii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang 1
B. Identifikasi
Masalah 1
C. Tujuan
Pembelajaran 2
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Sindrom Cushing 3
B. Etiologi
Sindrom Cushing 4
C. Manifestasi
klinis Sindrom Cushing 4
D. Patofisologi
Sindrom Cushing 5
E.
Web of Causen Sindrom Chusing 6
F. Penatalaksanaan
Sindrom Chusing 6
G. Pemeriksaan
penunjang 7
H.
Asuhan
Keperawatan Sindrom Chusing 9
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan 15
B. Saran 15
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kelenjar adrenal terdiri dari medula dan korteks.
Korteks terdiri atas zona glomerulosa, fasikulata, dan retikularis. Zona
glomerulosa mensekresikan aldosteron dan dikendalikan oleh mekanisme
renin-angiotensin dan tidak bergantung pada hipofisis. Zona fasikulata dan
retikularis mensekresikan kortisol dan hormon androgenik dan dikendalikan oleh
hipofisis melalui ACTH.
Sekresi ACTH oleh hipofisis dikendalikan oleh (1)
faktor pelepas kortikotropin hipotalamus, dan (2) efek umpan balik kortisol.
Ketika terjadi suatu gangguan pada pembentukan hormon-hormon tersebut baik
berlebih maupun kekurangan, akan mempengaruhi tubuh dan menimbulkan
keabnormalan. Sindrom cushing adalah terjadi akibat kortisol berlebih.
B. Identifikasi
Masalah
1. Apa
yang menyebabkan Ny.o lemah dan kelebihan berat badan?
2. Mengapa
badan Ny.o membesar, muka tampak bulat, ada garis-garis putih di sekitar perut
bagian bawah, dan sakit pinggang?
3. Apa
yang terjadi pada Ny.o?
4. Apa
penyebab dari gejala – gejala tersebut ?
5. Bagaimana
patofisiologi dari penyakit tersebut ?
6. Bagaimana
penatalaksanaannya ?
7. Bagaimana
Asuhan Keperawatannya ?
C. Hipotesa
1. Karena
kelebihan kadar glukokortiroid
2. Karena
ada gangguan pada kelenjer adrenalnya
3. Sindrom
Cushing
4. Lampiran
di makalah
5. Lampiran
di makalah
6. Lampiran
di makalah
7. Lampiran
di makalah
D. Tujuan
Pembelajaran
Mengetahui
dan memahami tentang Sindrom Cushing.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sindrome Cushing
Sindrom cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik
gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Kadar
yang tinggi ini dapat terjadi secara spontan atau karena pemberian dosis
farmakologik senyawa-senyawa glukokortikoid.(Sylvia A. Price; Patofisiolgi,
Hal. 1088).
Syndrome cushing adalah gambaran klinis yang timbul akibat peningkatan
glukokortikoid plasma jangka panjang dalam dosisi farmakologik
(latrogen).(Wiliam F. Ganang , Fisiologi Kedokteran, Hal 364).
Syndrome cushing di sebabkan
oleh stres berlebihan steroid adrenokortial terutama
kortisol.(IDI). Edisi III Jilid I, hal 826).
Cushing merupakan akibat rumatan dari kadar kortisol darah yang tinggi
secara abnormal karena hiperfungsi korteks adrenal. (Ilmu Kesehatan Anak, Edisi
15 Hal 1979).
Syndrome cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolic
gabungan dari peninggian kadar glikokortikoid dalam darah yang menetap.(Patofisiologi,
hal 1089).
B. Etiologi Sindrom Cushing
1. Sindrom
cushing disebabkan oleh sekresi kortisol atau kortikosteron yang berlebihan,
kelebihan stimulasi ACTH mengakibatkan hiperplasia korteks anal ginjal berupa adenoma
maupun carsinoma yang tidak tergantung ACTH juga mengakibatkan sindrom cushing.
Demikian juga hiperaktivitas hipofisis, atau tumor lain yang mengeluarkan ACTH.
Syindrom cuhsing yang disebabkan tumor hipofisis disebut penyakit cusing. (buku
ajar ilmu bedah, R. Syamsuhidayat, hal 945).
2. Sindrom
cusing dapat diakibatkan oleh pemberian glukortikoid jangka panjang dalam dosis
farmakologik (latrogen) atau oleh sekresi kortisol yang berlebihan pada
gangguan aksis hipotalamus-hipofise-adrenal (spontan) pada sindrom cusing
spontan, hiperfungsi korteks adrenal terjadi akibat ransangan belebihan oleh
ACTH atau sebab patologi adrenal yang mengakibatkan produksi kortisol abnormal.
(Sylvia A. Price; Patofisiologi, hal 1091)
3.
Meningginya kadar ACTH ( tidak
selalu karena adenoma sel basofil hipofisis).
4.
Meningginya kadar ATCH karena adanya
tumor di luar hipofisis, misalnya tumor paru, pankreas yang mengeluarkan “ACTH
like substance”.
5.
Neoplasma adrenal yaitu adenoma dan
karsinoma.
6.
Iatrogenik adalah Pemberian
glukokortikoid jangka panjang dalam dosis farmakologik. Dijumpai pada penderita
artitis rheumatoid, asma, limpoma dan gangguan kulit umum yang menerima
glukokortikoid sintetik sebagai agen antiinflamasi.
C.
Manifestasi KlinisSindrom Cushing
Apabila terjadi produkssi hormon korteks adrenal
yang berlebihan maka penghentian pertumbuhan, obesitas dan perubahan
muskuloskletal akan timbul bersama dengan intoleransi glukosa.
Gambaran klasik sindrom cushing pada orang dewasa
berupa obesitas tipe sentral dengan buffalo hump pada bagian posterior leher
serta daerah supraklavikuler, badan yang besar dan ekstermitas yang relatif
kurus. Kulit menjadi tipis, rapuh dan mudah luka, ekimosis (memar) serta sering
akan terjadi. Pasien mengeluh lemah dan mudah lelah. Gangguan tidur sering
terjadi akibat perubahan sekresi diurinal kortisol. Katabolisme yang berlebihan
akan terjadi sehingga menimbulkan pelisutan otot dan osteoporosis. Gejala
kiposisi, nyeri punggung dan fraktur komprosi vertebra dapat muncul. Retensi
natrium dan air terjadi akibat peningkatan aktivitas mineralokortikoid, yang
menyebabkan hipertensi dan CHF.
Pasien akan menunjukkan gambaran wajah seperti
bulan atau moon face dan kulit tampak lebih berminyak serta tumbuh jerawat
sehingga kerentanan infeksi semakin meningkat. Hiperglikemia atau diabetes yang
nyata dapat terjadi. Pasien dapat pula melaporkan kenaikan berat badan,
kesembuhan, luka ringan, yang lambat dan gejala memar.
Pada pasien wanita berbagai usia, virilisasi dapat
terjadi sebagai akibat dari produksi androgen yang berlebihan. Virilisasi
ditandai oleh timbulnya ciri-ciri maskulin dan hilangnya ciri-ciri peminim.
Pada keadaan ini terjadi pertumbuhan bulu-bulu wajah yang berlebihan
(hirsutisme), atrofi payudara, haid yang berhenti, klitoris yang membesar dan
suara yang lebih dalam. Libido akan menghilang pada pasien laki-laki dan
wanita.
Perubahan terjadi aktivitas mental dan emosional
kadang-kadang dijumpai pisikosis. Biasanya terjadi distres serta depresi yang
akan meningkat bersamaan dengan semakin patahnya perubahan fisik yang menyertai
sindrom ini. Jika sindrom ini merupakan akibat dari tumor hipofisis gangguan
penglihatan, dapat terjadi akibat penekanan kiasma optikum oleh tumor yang
tumbuh.
D.
PatofisiologiSindrom Cushing
Glukokortikoid (terutama kortisol) merangsang glukoneogenesis dihati dan
menghambat pengambilan glukosa disel prefer. Hormon ini juga merangsang
lipolisis.pemecahan protein di perifer dan pembentukan protein plasma (misal,
angiotensinogen) di hati, hormon ini meningkatkan pembentukan eritrosit,
trombosit dan granulosit (neotrofil), sementara hormon ini juga menurunkan
jumlah granulosit eusiniofil, basofil, limfosit, monosit.
Hormon ini juga melalui pembentukan protein
lipokortin dan fosokortin, menekan pelepasan histamin, interleukin dan
limfokin. Dengan menghambat fogfolipose, glukokortikoid menekan pembentukan
prostaglandin dan leukotrien, hormon ini menghambat pembentukan anti bodi dan
karna itu bekerja sebagai imunosupresif. Glukokortikoid menekan imflamasi
dengan menghambat proliferasi jaringan ikat, namun pada saat bersamaan
menghambat sintesis dan perbaikan kolagen, hormon ini merangsang sekresi asam
dan pepsin dilambung dan memperlambat pembentukan mukus. Selain itu hormon ini
menurunkan kadar kalsium dan fosfat didalam plasma, sebagian dengan menghambat
pembentukan kalsitriol. Hormon ini juga mensensitisasi pembuluh darah dan
jantung terhadap katekolamin sebagian dengan menghambat sintesis prostakladin,
merangsang pelepasan norepinefrin dan meningkatkan eksitabilitas sistem saraf.
Mineralakotikoid terutama aldosteron meningkatkan
retensi natrium dan air di ginjal. Hormon ini juga memfasilitasi peningkatan
tekanan darah dan merangsang pengeluaran kalium, magnesium, dan hidrogen di
ginjal, dan secara bersamaan merangsang pengambilan kalium intra sel, namun
pada kadar plasma yang tinggi, kortisol juga memperlihatkan efek
mineralokortikoid bermakna mskipun sebagian besar diinaktifkan di sel target
mineralokortikoid. Selain meneralokortikoid dan glukokortikoid
dehidro-epiandrosteron (DHEA) yang merupakan prekursor hormon seks steroid dan
juga dibentuk di adrenal. Efek metabolik kelebihan glukokortikoid mendorong
timbulnya DM yaitu diabetes steroid yakni pelepasan insulin ditingkatkan. Asam
lemak bebas yang dibentuk melalui perangsangan lopolisis digunakan di hati
untuk menghasilkan lipoprotein berdensitas sangat rendah (VLDL) yang akan
dilepaskan ke dalam darah. Selain itu hati membentuk benda keton dari asam
lemak. Penyebaran jaringan lemak terjadi akibat perbedaan sensitifitas dari
jaringan lemak perifer terhadap glukokortikoid dan insulin hal ini menyebabkan
penyimpanan lemak yang bersifat sentripetal wajah bulat atau moon face dan
terjadi penimbunan lemak di leher (bufalo hump) sedangkan kaki tetap kurus.
Pemecahan protein perifel menyebabkan penurunan massa otot, osteoporosis
(kehilangan matriks tulang). Striae (pemecahan jaringan ikat subkutan dan
purpura peningkatan fragilitas vaskular), kerena perbaikan terganggu
penyembuhan luka menjadi terlambat pengaruhnya pada tulang diperburuk
difesiensi Ca HPO4 dan pada anak-anak menyebabkan pertumbuhan
terhambat pengaruhnya pada darah menyebabkan polisitemia. Trombosis dan
peningkatan koagulabilitas. Sistem imun yang lemah memudahkan terjadinya
infeksi. Sensitisasi sirkulasi terhadap katekolamin diantaranya menyebabkan
peningkatan kontraktilitas jantung dan vasokontriksi perifer sehingga
menyebabkan hipertensi yang bersama dengan hiperlipidemiadan koagulabilitas
darah akan memudahkan pembentukan aterosklerosis, trombosa dan penyumbatan
vaskular, akibat perangsangan asam hidroklorida dan sekresi pepsin serta
penghambatan sekresi mukus di lambung, akan terjadi ulkus lambung atau duodenum
(peptikum). Pengaruhnya pada sistem saraf dapat memicu syndrom psikogenik endokri.
Meningkatnya pengaruh mineralokortikoid menyebabkan
hiperpolimia yang selanjutnya menyebabkan hipertensi. Hal ini juga menyebabkan
hipokalemia, hipomagnesemia dan alkolosis yang selanjutnya menyebabkan
peningkatan eksitabilitas neuromuskular pengaruhnya diantaranya gangguan
pembentukan potensial aksi dan konduksi di jantung.
Kelebihan androgen dapat menyebabkan muskulinisasi
dan amenurea (virilisme) pada wanita serta percepatan onset karakteristik seks
pada anak laki-laki (pubertas prekoksia yang tidak lengkap)
E. Web of
Causion Sindrom Chusing
F.
PenatalaksanaanSindrom Chusing
1.
Karena
lebih banyak sindrom cushing yang disebabkan oleh tumor hipofisis disbanding
tumor korteks adrenal, maka penangananya sering ditujukan kepada kelenjar hipofisis.
Operasi pengangkatan tumor melalui hipofisektomi transfenoidalis merupakan
terapi pilihan karena sering berhasil.adrenalektomi merupakan terapi bagi
pasien dengan hipertrofi adrenal primer.
2.
Setelah
pembedahan, gejala insufisiensi adrenal dapat mulai terjadi 12 hingga 48 jam
kemudian sebagai akibat dari penurunan kadar hormone adrenal dalam darah yang
sebelumnya tinggi.terapi penggantian temporer dengan hidrokortison mungkin
diperlukan selama beberapa bulan sampai kelenjar adrenal mulai memperlihatkan
respon yang normal terhadap kebutuhan tubuh. Jika kedua kelenjar adrenal
diangkat ( adrenalektomi bilateral ), terapi penggantian dengan hormon-hormon
korteks adrenal harus dilakukan seumur hidup.
3.
Preparat
penyekat enzim adrenal (yaitu, metyrapon, aminoglutethimide, mitotane,
ketokonazol)dapat digunakan untuk mengurangi hiperadrenalisme jika sindrom
tersebut disebabkan oleh sekresi ektopik ACTH oleh tumor yang tidak dapat
dihilangkan secara tuntas. Pemantauan yang ketat diperlukan karena dapat
terjadi gejala insufisiensi adrenal dan efek samping akibat obat-obat tersebut.
4.
Ada dua
kelompok obat yang dapt dipakai, yaitu obat yang mencegah produksi kortisol
(Mitotane) dan antagonis serotonin yang bisa mencegah keluarnya ACTH
(Cyproheptadine).
5.
Jika
sindrom cushing merupakan akibat dari pemberian kortikosteroid eksternal (eksogen
), pemberian obat tersebut harus diupayakan untuk dikuragi atau dihentikan
secara bertahap hingga tercapai dosis minimal yang adekuat untuk mengobati
proses penyakit yang ada dibaliknya (misalnya, penyakit otoimun serta alergi
dan penolakan terhadap organ yang ditransplantasikan). Biasanya terapi yang
dilakukan setiap dua hari sekali akan menurunkan gejala sindrom cushing dan
memungkinkan pemulihan daya responsif kelenjar adrenal terhadap ACTH.
G. Pemeriksaan
Penunjang
1. Uji supresi deksametason.
Mungkin
diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis peyebab sindrom cushing
tersebut, apakah hipopisis atau adrenal.
2. Pengambilan sampele darah.
Untuk
menentukan adanya varyasi diurnal yang normal pada kadar kortisol, plasma.
3. Pengumpulan urine 24 jam.
Untuk
memerikasa kadar 17 – hiroksikotikorsteroid serta 17 – ketostoroid yang
merupakan metabolik kortisol dan androgen dalam urine.
4. Stimulasi CRF.
Untuk
membedakan tumor hipofisis dengan tempat – tempat tropi.
5. Pemeriksaan radioimmunoassay
Mengendalikan
penyebab sindrom cushing
6. Pemindai CT, USG atau MRI.
Untuk
menentukan lokasi jaringan adrenal dan mendeteksi tumor pada kelenjar adrenal.
H.
Askep Pada Klien Dengan
Syndrom Cushing
a. Pengkajian
1. Identitas
klien
Meliputi nama,
umur, jenis kelamin,
pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor
register,diagnose medis.
2. Riwayat
kesehatan sekarang
-
Obesitas
-
Lemah
-
Muka tampak bulat ( moon face )
-
Nyeri pinggang
-
Kulit berminyak serta
tumbuh jerawat
-
Lengan dan kaki kurus
degan atrofi otot
-
Kulit cepat memar
-
Penyembuhan luka sulit
-
Menstruasi terhenti
3. Riwayat
kesehatan dahulu
Klien sebelumnya
pernah menderita
-
Osteoprosis
-
hipertensi
4. Riwayat
kesehatan keluarga
Keluarga tidak pernah menderita penyakit
yang sama dengan klien
b. Pemeriksaan
Fisik
1. Keadaan
umum : compos mentis
2. Tanda-tanda
vital :
-
TD : meningkat (hipertensi)
-
RR : kusmaul
-
N : takikardi
-
S : meningkat (demam)
3. Pemeriksaan
fisik head to toe
a. Kepala :
-
Rambut: tipis
b.
Wajah : muka merah, berjerawat dan
berminyak, moon face
c. Mata :
-
Konjungtiva: anemis
-
Sklera : ikterik
-
Pupil :
tidak dilatasi
d. Hidung
:Sekret tidak ada
e. Mulut :Membran mukosa pucat, bibir kering.
f.
Leher : tidak ada pembesaran
kelenjar tyroid, vena jugularis distensi,
g.
Integument : turgor
kulit buruk, kulit kemerahan, terdapat bulu halus, striae
h. Thorak
-
Paru – paru
Inspeksi : tidak terlihat retraksi intercosta
hidung, pergerakan dada simetris
Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan
Perkusi: sonor
Auskultasi:
tidak ada suara tambahan
-
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis teraba pada ICS 4 – 5
midclavicula
Perkusi : pekak
Auskultasi :
irama teratur
i.
Abdomen
Inspeksi : tidak simetris, dan edema, striae
Palpasi : nyeri tekan
Perkusi : suara redup
Auskultasi : bising usus meningkat
j.
ekstremitas : atrofi
otot ekstremitas, tulang terjadi osteoporosis, otot
lemah
k.
genitalia : klitoris membesar, amenore
c. Pemeriksaan
Penunjang
1. Uji supresi deksametason.
Mungkin
diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis peyebab sindrom cushing
tersebut, apakah hipopisis atau adrenal.
2. Pengambilan sample darah.
Untuk
menentukan adanya varyasi diurnal yang normal pada kadar kortisol, plasma.
3. Pengumpulan urine 24 jam.
Untuk
memerikasa kadar 17 – hiroksikotikorsteroid serta 17 – ketostoroid yang
merupakan metabolik kortisol dan androgen dalam urine.
4.
Stimulasi CRF (Corticotrophin-Releasing
Faktor)
Untuk
membedakan tumor hipofisis dengan tempat – tempat tropi.
5. Pemeriksaan radioimmunoassay
Mengendalikan
penyebab sindrom cushing
6. Pemindai CT, USG atau MRI.
Untuk
menentukan lokasi jaringan adrenal dan mendeteksi tumor pada kelenjar adrenal.
d. Analisa
Data
|
No
|
Data
|
Masalah
|
Etiologi
|
|
1
|
DS :
-
klien mengatakan berat badannya
bertambah
-
klien mengatakan rambut rontok
-
klien mengatakan lemah
DO :
-
klien tampak lemah
-
klien obesitas
-
tangan dan kaki klien kurus
|
Resiko cedera dan
infeksi
|
Kelemahn otot,
metabolisme karbohidrat abnormal dan dan respon inflamasi
|
|
2
|
DS :
-
klien mengatakan nyeri tulang terutama
punggung
DO
:
-
klien tampak meringis
-
tonus otot : +
-
klien tampak susah berdiri
|
Gangguan rasa nyaman
: nyeri
|
Nyeri pada tulang
|
|
3
|
DS :
-
klien mengatakan lukanya sulit sembuh
-
Klien mengatakan perutnya buncit
DO
:
-
Kulit klien tampak tipis
-
Kulit klien tampak kemerahan
-
Kulit klien berminyak dan berjerawat
|
Resiko kerusakan integritas kulit
|
Edema, gangguan
kesembuhan dan kulit tipis
|
e. Diagnosa
Keperawatan
1. Resiko
infeksi b/d Kelemahn otot, metabolisme karbohidrat abnormal dan dan respon
inflamasi
2. Gangguan
rasa nyaman : nyeri b/d Nyeri pada
tulang
3. Resiko kerusankan
integritas kulit b/d Edema, gangguan kesembuhan dan kulit tipis
4. Gangguan
citra tubuh b/d perubahan penampilan fisik, gangguan fungsi seksual dan penurunan
tingkat aktivitas
5. Gangguan
proses pikir b/d fluktuasi emosi, iritabilitas dan depresi
6. Perubahan
nutrisi (lebih dari kebutuhan tubuh) b/d nafsu makan meningkat (kortisol
meningkat) dan perubahan metabolisme tubuh
f. Intervensi
Keperawatan
|
No
|
Diagosa
|
Tujuan dan KH (NOC)
|
Intervensi (NIC)
|
Aktivitas
|
|
1
|
Resiko
infeksi b/d Kelemahn otot, metabolisme karbohidrat abnormal dan dan respon
inflamasi
|
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan
metabolisme karbohidrat klien normal kembali
Kriteria Hasil :
-
Infeksi
berkurang.
-
Daya
tahan tubuh meningkat.
|
Kontrol infeksi
|
1.
Observasi
dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan, panas, nyeri, dan
adanya fungsiolaesa.
2.
Kaji
temperatur klien tiap 4 jam.
3.
Catat
dan laporkan nilai laboraturium (leukosit, protein, serum, albumin).
4.
Kaji
warna kulit, kelembaban tekstur, dan turgor.
5.
Gunakan
strategi untuk mencegah infeksi nosokomial.
6.
Tingkatkan
intake cairan.
7.
Istirahat
yang adekuat.
8.
Cuci
tangan sebelum dan setelah tindakan keperawatan.
9.
Dorong
pasien untuk istirahat.
|
|
2
|
Gangguan
rasa nyaman : nyeri b/d Nyeri pada
tulang
|
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan
diharapkan klien tidak measakan nyeri lagi
Kriteria hasil :
-
Skala nyeri 0-3.
-
Wajah klien tidak meringis.
-
Klien tidak memegang daerah nyeri.
|
Manajemen nyeri
Monitor
tanda-tanda vital
|
1.
Lakukan penilaian nyeri secara
komprehensif dimulai dari lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
intensitas dan penyebab.
2.
Pertimbangkan pengaruh budaya
terhadap respons nyeri.
3.
Mengurangi atau mengapuskan
faktor-faktor yang memperketat atau meningkatkan nyeri (seperti:ketakutan,
fatique, sifat membosankan, ketiadaan pengetahuan).
4.
Menyediakan analgesik yang
dibutuhkan dalam mengatasi nyeri.
5.
Cek order medis mengenai obat,
dosis dan frekuensianalgesik yang diberikan.
6.
Cek riwayat alergi obat.
7.
Pilih analgesik yang tepat atau
kombinasi analgesik ketika lebih dari satu obat yang diresepkan.
8.
Tentuka pilihan analgesik
(narkotik, non narkotik, NSAID) berdasarkan jenis dan beratnya penyakit.
9.
Monitor tanda-tanda vital sebelum
dan sesudah pemberian obat analgetik narkotik dengan dosis pertama, atau
catat jika ada tanda yang tidak biasa muncul.
|
|
3
|
Resiko
kerusakan integritas kulit b/d Edema, gangguan kesembuhan dan kulit tipis
|
Tujan : setelah dilakukan tindakan keperawatan
interitas kulit klien normal kembali
Kriteria Hasil:
-
Tidak
ada luka atau lesi pada kulit.
-
Perfusi
jaringan baik.
-
Menunjukkan
pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera
berulang
|
Pressure management
|
1.
Anjurkan
pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar.
2.
Jaga
kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.
3.
Mobilisasi
pasien (uabah posisi pasien) setiap 2 jam sekali.
4.
Monitor
kulit akan adanya kemerahan.
5.
Monitor
aktivitas dan mobilisasi pasien.
6.
Monitor
status nutrisi pasien.
7.
Memandikan
pasien dengan sabun dan air hangat.
|
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sindrom
cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan dari
peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Kadar yang tinggi ini
dapat terjadi secara spontan atau karena pemberian dosis farmakologik
senyawa-senyawa glukokortikoid.(Sylvia A. Price; Patofisiolgi, Hal. 1088).
B.
Saran
Dengan
selesainya makalah ini disusun, penulis berharap pembaca dapat mempelajari dan
memahami tentang gangguan kelenjer
adrenal sindrom cushing. Penulis juga
mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun, sehingga penulis dapat
menjadi lebih baik untuk masa yang akan datang dalam penyusunan makalah.
DAFTAR
PUSTAKA
Smeltzer
C. Suzanne, Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Jakarta, EGC ,2002.
Baradero
Mary, Klien Gangguan Endokrin,
jakarta, EGC, 2009.
NANDA,
NIC, dan NOC
Sylvia A.
Price; Patofisiolgi Konsep klinis Proses-Proses Penyakit ; 1994 EGC; Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar